(artikel ini hanya sebagai tambahan )
CAKRAWALA: KEINDAHAN KEBERSAMAAN KELUARGA
Dalam keluarga, kita dapat mengalami hal yang indah melalui
"fellowship" (hubungan) -- pada saat bersekutu hidup bersama, aslinya
kelihatan. Emas bila dicampur logam menjadi karat yang berbeda-beda.
Tetapi waktu dibakar dengan api, logamnya musnah, sisanya tinggal yang
asli -- emas murni.
Siapa diri kita sebenarnya, dalam istilah psikologi: "The Real I"
(Siapa saya yang sesungguhnya)? Tanpa topeng.
Bila kita becermin dan mengetahui siapa sesungguhnya diri kita, kita
mungkin akan ketakutan setengah mati. Kitab Suci mengatakan bahwa kita
adalah manusia yang berdosa, dari dalam hati muncul pikiran jahat,
fitnah, percabulan, hujatan, dan iri hati. Waktu keadaan asli kita
dibuka, terlihat sangat menakutkan.
Intisari Kitab Suci adalah Tuhan Yesus mati di kayu salib demi kita;
diri ini seperti sampah yang baunya busuk, tetapi dengan kematian
Kristus, Dia membawa kita ke tempat yang mulia, tempat yang indah.
Pada dasarnya, manusia menutupi dirinya dengan topeng yang
berlapis-lapis. Kita ingin dikenal sebagai orang baik, ramah, dan
supel, maka dari itu kita senang menebar senyum ke sana ke mari.
Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam
terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan
darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa
(1 Yohanes 1:7-8).
Orang biasanya berlagak baik di depan orang lain, tetapi dalam
keluarga kelihatan seperti apa dia sesungguhnya. Kita bisa berlaku
ramah di gereja, toh hanya satu sampai dua jam. Latihan paduan suara,
melayani Tuhan, beribadah, rapat, kita mampu bersikap seperti seorang
yang baik. Namun, ketika kembali ke habitat sebenarnya, orang rumahlah
yang paling tahu siapa Anda. Nanti yang bersaksi tentang kita di
hadapan Tuhan bukan orang lain, tetapi anggota keluarga kita.
Mengutamakan Keaslian
Ini bukan berarti "be yourself" (menjadi diri Anda sendiri),
sebagaimana adanya aku. Istilah "be yourself" memiliki kesan keras
kepala -- aku mau menjadi diriku seperti ini, memang kenapa?
Hanya Tuhan dalam kesempurnaan-Nya yang berhak berkata "I AM that I
AM" (Aku adalah Aku). Dahulu, sekarang, dan selamanya, Aku tidak
berubah.
Sebaliknya, kita harus berubah menuju kesempurnaan. Keluarga berfungsi
sebagai cermin. Memantulkan siapa sesungguhnya diri Anda. Waktu kita
becermin, kelihatan semua jerawat kita. Cermin memantulkan apa adanya,
bukan ada apanya.
Pasangan menjadi cermin, hanya istri yang berani berkata pada suami,
"Kamu jadi orang kok kasar amat!" Di sisi lain, suami jadi cermin
karena suamilah yang berani berkata pada istrinya, "Kenapa akhir-akhir
ini kamu kok suka marah?"
Dalam keluarga, Anda bisa menunjukkan keaslian. Keluargalah yang
menjadi bengkel, diri yang buruk "diservis" dan "ditune-up" supaya
lebih baik lagi.
Mengalami Kesalingan
Saling membantu, saling mendoakan, dan saling menopang. Selamanya
manusia membutuhkan tiga hal: ditolong, diperhatikan, dan dikasihi.
Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, pastilah frustrasi, susah hati,
dan ujung-ujungnya kegilaan sudah menanti. Siapa yang memerhatikan
kita? Siapa yang mau menolong kita? Siapa yang bisa mengasihi kita?
Tetangga? Teman kantor? Tidak mungkin, bukan?
Jika anggota keluarga tidak memperoleh hal di atas, dia akan
mencarinya di luar. Banyak remaja terlibat pergaulan bebas dan dunia
narkoba, karena mencari pengakuan dari teman-temannya. Mengapa
demikian? Karena di rumah, ia tidak mendapatkannya.
Papa sibuk bekerja. Mama beraktivitas di luar rumah terus. Akhirnya,
anak remaja ini merasa dikasihi dan diterima saat dia berada di tengah
teman-temannya. Apa kata temannya pasti dilakukan. Kalau melakukan
yang baik, ini tidak masalah; kalau melakukan yang buruk? Sungguh
menyedihkan. Karena itu, jangan egois, kita harus membangun semangat
kesalingan di dalam keluarga.
Semangat kesalingan adalah simbiosis mutualisme. Lawannya, parasitisme
-- aku memakan kamu. Sampai kurus kering, aku tidak peduli, yang
penting aku tetap hidup.
Ada dua tipe egois:
1. Hanya bisa menerima saja.
Kebahagiaan, emosi, dan keputusan harus didapat dari orang lain. Orang
lain yang harus membuatnya bahagia.
2. Hanya bisa memberi saja.
Ada motivasi tersembunyi ketika memberi, dia ingin dipuji. Jadi,
sering kali ia memberi tanpa melihat kebutuhan orang yang diberi.
Yang paling sehat adalah serba bisa (interdependent) -- bisa memberi,
bisa menerima, bisa mengasihi, bisa dikasihi, bisa memberi pendapat,
dan bisa diberi masukan.
Mengalami Pengampunan dan Belas Kasihan
Apa yang membuat seseorang menjadi egois? Apa yang membuat seseorang
tidak peduli kepada orang lain? Jelas, karena dalam hidupnya tidak
pernah mengalami pengampunan dan belas kasihan. Dia menjadi orang yang
keras di dalam hatinya, tidak peka terhadap kebutuhan orang lain. Saat
melihat orang lain, tidak muncul rasa mengasihi. Kemungkinan, dia
dibesarkan dalam sebuah keluarga yang kering kasih sayang.
Dalam keluarga, jika bisa mengampuni dan diampuni setuntas-tuntasnya
adalah pengalaman yang agung dan indah. Istri yang bersalah tetapi
diampuni setulus-tulusnya oleh sang suami, akan mengalami sebuah
pengalaman mengharukan dan tidak terlupakan.
Jika ada pengalaman diampuni, maka seseorang akan menjadi murah hati
dan berbelas kasihan kepada orang lain. Keluargalah konteks yang
paling tepat untuk mempraktikkan pengampunan dan saling mengasihi.
Hanya orang egoislah yang tidak bisa mengampuni orang lain. Orang
egois mungkin mengampuni, tetapi kemudian berkata, "Tapi saya tahu
kok, di antara kita sudah tidak bisa bergaul lagi." Dia tidak mau
belajar bahwa melalui konflik ada kesempatan makin dekat.
Konflik yang sehat setelah pertengkaran, orang yang berseteru malah
akrab. Konflik yang tidak sehat adalah setelah bertengkar langsung
terjadi perpisahan selama-lamanya.
Mengapa saat ini ada suami istri tidak bicara berhari-hari? Setelah
berhari-hari dilanjutkan sampai berminggu-minggu? Bahkan, ada istri
yang mengatakan sudah bertahun-tahun tidak akrab dengan suaminya.
Suaminya malah akrab luar biasa dengan teman kantornya. Ia bisa
mengobrolkan banyak hal berjam-jam dengan temannya, tetapi sangat
dingin dengan istrinya. Mengapa bisa begini?
Kemungkinan mereka pernah mengalami konflik, lalu saling menyakiti dan
tidak ada pengampunan. Seperti sedang membangun bata demi bata,
pelan-pelan tanpa terasa menjadi sangat tinggi. Antara suami dan
istri terpisah oleh bata tersebut, sehingga walaupun mereka masih
bersama tetapi mereka tidak bisa bercakap-cakap lagi. Suami ada, istri
ada, tetapi sudah tidak digubris karena tidak bisa melihat. Batanya
terlalu tinggi!
Firman Tuhan berkata, "sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan
menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau
berat." (2 Korintus 2:7)
Seperti apa rasanya dicuekkan pasangan berhari-hari? Aduh... rasanya
sakit hati sekali! Saya juga mau mengaku dosa. Saya pernah mendiamkan
Liana (istri saya) berhari-hari (dua hari). Saat ada konflik yang tak
terselesaikan, rasanya ingin menghukum pasangan dengan mendiamkannya.
"Aku sudah malas bicara denganmu, lebih baik aku diam saja."
Sebenarnya ini sangat menyakitkan, tetapi sekarang saya sudah
bertobat, lagi pula saya tidak tahan mogok bicara (diam-diaman).
Jangan egois, jika sekarang Anda saling mendiamkan pasangan. Mari kita
merendahkan diri di hadapan Tuhan. Jumpai pasangan Anda. Ajaklah
bicara pasangan Anda baik-baik, sambil membawa bendera putih tanda
menyerah.
Jika kita memelihara kekecewaan, maka sesungguhnya kejahatan ada di
dalam diri kita. Sebaliknya, jika kita berkata kepada Tuhan, "Tuhan,
hadirkanlah kasih itu kepadaku!" Saat itu juga marah dan dosa hilang.
Di mana ada dosa, kasih hilang. Di mana ada kasih, dosa hilang.
Kehadiran Tuhanlah yang membuang semua keinginan dosa dalam diri kita,
maka peliharalah kasih, terutama kepada pasangan dan anak-anak.
Setelah menikah, mari kita menurunkan ego serendah-rendahnya, agar
kekasih kita mendapat ruangan yang layak dalam hati kita. Jika tidak
demikian, pastilah kekasih kita sudah diusir ke luar oleh si ego yang
menguasai diri kita.
Selamat merendahkan ego kita!
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Garam dan Terang bagi Keluarga
Judul bab: Not Egocentric (Tidak Egois)
Penulis: Chang Khui Fa
Penerbit: Pionir Jaya, Jakarta 2009
Halaman: 317 -- 321
Source : sabda.org
Tags
Keluarga Bandung